Senin, 03 Desember 2012

Peran Apoteker di Industri Farmasi ( Part 2 : Manajemen Produksi )

     Lanjutan dari tulisan sebelumnya.....

     Setelah kita mengetahui sifat kita cocok atau tidak dengan  departemen produksi...maka kita melangkah ke apa yang harus kita ketahui tentang manajemen produksi....

 

     Hal yang paling penting dalam kiprah Apoteker di departemen produksi adalah tentang manajeman produksi, yange meliputi:

1. Mengetahui kapasitas dan jenis mesin,
2. Mengetahui kapasitas beban produksi
3. Mengetahui kapasitas dari satuan jenis sediaan.
3. Mengetahui kapasitas sumber daya manusia (SDM).

      Mari kita kupas satu persatu point-point diatas
.
1. Kapasitas dan jenis mesin.

      Point ini menjelaskan bahwa seorang apoteker yang bertugas mengawasi jalan proses produksi harus memiliki data tentang kapasitas dan jenis mesin yang berada di departemennya.Salah satu cara untuk mengetahui jenis mesin dan kapasitas yang dimiliki kita dapat melihatnya di manual book dari mesin yang bersangkutan. Jika waktu tidak cukup dapat kita menanyakan ke operator senior atau teknisi yang berada di pabrik kita, tetapi tetap harus dicross check dengan manual book. Hal ini diperlukan untuk mendapatkan informasi yang holistik dari jenis dan kapasitas mesin yang kita gunakan.
      Hal terpenting yang yang harus kita ketahui adalah maksimal dari kapasitas mesin yang terpakai adalah 80%. Sebenarnya bisa dipaksakan menjadi 85-95 % kapasitas mesin yang tertera pda manula book, akan tetapi resiko life time dari mesin akan berkurang secara signifikan. Misal dengan pemakaian 80% dari kapasitas mesin, life time dari mesin bisa mencapai 20 tahun. Jika pemakaian dipaksakan menjadi 85-95% life time mesin tersebut menjadi berkurang sampai dibawah 15 tahun atau bahkan lebih cepat lagi.
      Setelah kita mengetahui kapasitas mensin, jenis mesin juga harus kita ketahui untuk bisa mengetahui jenis mesin apa yang cocok dengan karakteristik bahan dan jenis sediaan yang akan kita pakai. Misal jenis mesin A cocok untuk granulasi kering, mesin B cocok untuk granulasi basah, dan mesin C bisa digunakan untuk kedua jenis granulasi diatas.


2.Kapasitas beban produksi

    Untuk mengetahui kapasitas beban produksi diperoleh dari jumlah forecast yang masuk dari departemen Production Planning dan Inventory Control (PPIC). Kapasitas beban produksi ini bisa dibagi menjadi beberapa interval waktu. Bisa mingguan, 2 mingguan atau bulanan. Kapasitas beban produksi ini biasanya pada bulan berjalan sebisa mungkin tidak ada perubahan, untuk menghindari perubahan pada jadwal produksi yang sedang berjalan.
   
    Mengetahui kapasitas beban produksi ini sangat penting untuk mengetahui apakah di produksi bisa jalan dengan shift normal, ataukah perlu dilakukan mekanisme shift. Hal ini bergantung pada jumlah beban produksi yang ditanggung pada interval waktu tertetntu itu dan juga berhubungan dengan kapasitas dari satuan jenis sediaan yang muncul pada forecast bulan itu.

3. Kapasitas dari satuan jenis sediaan .

    Yang dimaksud dengan kapasitas satuan jenis sediaan artinya, kita punya standar waktu yang diperlukan oleh suatu produk dari mulai cleaning, setting, running, sampai proses selesai dari salah satu jenis mesin sesuai dengan alur prosesnya. Misalkan produk A di mesin granulasi 1, dibutuhkan waktu cleaning 1 jam, waktu setting 0,5 jam, waktu running sesuia dengan validasi proses selama 4 jam. Jadi total waktu yang dibutuhkan untuk produk A di mesin proses 1 adalah 4,5 jam.

    Standar waktu ini harus dimiliki oleh setiap satuan jenis sediaan dan pada setiap mesin yang dilalui oleh jenis sediaan itu. Misalkan produk A diatas:

   Total di mesin proses 1 adalah 4,5 jam.
   Total di mesin proses 2 adalah 6 jam,
   Total di mesin proses 3 adalah 5 jam.
   Total produk A membutuhkan waktu proses 15,5 jam.

Jadi setiap jenis mesin tertentu harus ada kapasitas waktu dari satuan jenis sediaan yang akan dibuat.

Nah dari ketiga kapasitas diatas kita dapat membuat apa yang dinamakan dengan Rough Chart Capasity Plan atau sering disingkat dengan RCCP. Dalam RCCP ini memuat data kapasitas total waktu yang dimiliki oleh setiap jenis mesin selama interval waktu tertentu, kapasitas dari jenis satuan sediaan dan juga kapasitas beban kita selama interval waktu tersebut.

Untuk memudahkan, berikut adalah ilustrasi RCCP departmen produksi:

Misal kita mendapatkan forecast sebanyak 3 jenis sediaan/ produk ( @ 10 batch ) selama 1 bulan.

Mesin Proses 1 kapasitas waktu 1 shift ( 8 jam ) dengan 20 hari kerja = 8 jam x 20 hk = 160 jam
Mesin Proses 2 kapasitas waktu 1 shift ( 8 jam ) dengan 20 hari kerja = 8 jam x 20 hk = 160 jam
Mesin Proses 3 kapasitas waktu 1 shift ( 8 jam ) dengan 20 hari kerja = 8 jam x 20 hk = 160 jam

Produk 1 ( ada 10 batch ):
Mesin proses 1 : 5 jam x 10 = 50 jam
Mesin proses 2 : 6 jam x 10 = 60 jam
Mesin proses 3 :  4 jam x 10 = 40 jam

Produk 2 ( ada 10 batch ):
Mesin proses 1 : 6 jam x 10 = 60 jam
Mesin proses 2 : 8 jam x 10 = 80 jam
Mesin proses 3 :  7 jam x 10 = 70 jam

Produk 3 ( ada 10 batch ):
Mesin proses 1 : 5 jam x 10 = 50 jam
Mesin proses 2 : 6 jam x 10 = 60 jam
Mesin proses 3 :  5 jam x 10 = 50 jam

Total Mesin proses 1 = 50 + 60 + 50 = 160 jam
Total Mesin proses 2 = 60 + 80 + 60 = 200 jam
Total Mesin proses 3 = 40 + 70 + 50 = 160 jam

Dari hitungan ini, makan mesin proses 1 dan 3 cukup jalan 1 shift saja, tetapi untuk mesin proses 2 dibutuhkan 200 jam ( dari kapasitas mesin 1 shift 1 bulan 160 ), makan untuk itu 2 minggu di bulan tersebut harus dibuat 2 shift.

Nah itu gambaran singkat dari RCCP departmen produksi, sehingga kita tahu akan jalan berapa shift dari masing-masing mesin proses berdasarkan kapasitas beban dari PPIC dan juga kapasitas dari jenis satuan sediaan.
 

  4. Kapasitas sumber daya manusia

    Setelah kita mengetahui ketiga kapasitas diatas, baru kita bisa menghitung berapa jumlah orang yang kita butuhkan.Dari contoh diatasm misalkan:
1. mesin proses 1 membutuhkan 4 orang
2. mesin proses 2 membutuhkan 2 orang
3. mesin proses 3 membutuhkan 1 orang.

       Total orang yang kita butuhkan adalah 7 orang. Akan tetapi ingat pada 2 minggu di bulan tersebut untuk di mesin proses 2 harus diadakan long shift. ( 12 jam ). Tetapi jika misalkan saja mesin proses 2 membutuhkan waktu 320 jam ( dari total awal 160 jam ), maka dibutuhkan 2 shift di mesin proses 2, yang notabene akan membutuhkan sdm sebanayak 2 org  x 2 shift = 4 orang.

       Hal yang harus diperhatikan dikapasitas orang ini adalah keahlian dari sdm-sdm yang direkrut. Sebisa mungkin sdm-sdm yang direkrut ini harus minimal bisa 2 mesin yang berbeda, sehingga jika terjadi salah seorang sdm tidak masuk dapat digantikan posisinya oleh sdm yang lain. Training-training secara personal maupun dalam sebuah group sangat membantu dalam proses produksi.

      Kesimpulan diatas menunjukkan bahwa yang terpenting seorang apoteker dalam berkiprah pertama kali di bagian departemen produksi suatu industri farmasi adalah pengetahuan akan manajemen produksi, strategi produksi, managemen waktu dan manajemen sdm. Ilmu-ilmu teknis tentang problem pada saat granulasi, pencetakan, coating, pengemasan adalah hal selanjutnya yang harus dikuasai setelah ilmu tentnag manajemen produksi ini...

      Sekian ulasan tentang peranan apoteker di industri farmasi part 2 yang membahas tentang manajemen produksi. Tulisan selanjutnya part 3 akan membahas tentang hal teknis dalam proses produksi yang menyangkut tentang permasalahan-permasalahan yang timbul dalam proses produksi.....

     Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang membacanya....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar